Down and Out

Down and Out Rendy Priambodo

Tak Terucap Namun Ingin Diungkap

Reblogged from karenapuisiituindah

karenapuisiituindah:

Seseorang pernah bertanya kepadaku,
‘Mengapa kau begitu suka menuliskan puisi?’
Kujawab,
‘Karena aku tetap ingin berkata banyak, saat bibirku enggan berucap.’

Beberapa orang tak pernah ingin memahami
Bahwa puisi bukan tentang keluhan hati
Yang meringis
Dan memaksa setiap mata untuk…

Kejutan pagi dari Kelud yang kalut

Pagi tadi aku dengar berita meletusnya gunung kelut.
Sekarang aku lihat abu yang dikirimnya, melintas di langit surabaya, lantas turun diatas rumah-rumah warga

Aku yang baru kemarin membaca puisi “aku ingin” dari Sapardi J. D. Tiba-tiba muncul dibenak dengan syair yang berbeda;
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan bumi kepada magma yang menjadikannya abu”
Arti yang sarat dari Hamba-hambanya.

Lalu diwaktu yang sama, aku juga teringat sila pertama tentang “ketuhanan yang maha esa” yang kuartikan sendiri sebagai bentuk kuasa tanpa tanding, dunia dan isinya Dialah pemiliknya, entah apa maksud segala peristiwa disini, tapi aku yakin pasti ada sebuah arti.

Seorang Penyair Mati Terbunuh oleh Kesunyiannya Sendiri

Reblogged from satukatasaturasa

satukatasaturasa:

Setiap malam, ia selalu membacakan puisi sebagai dongeng sebelum tidur untuk anak-anak sunyi yang lahir dari getirnya rahim penantian. Dia tak pernah kehabisan puisi, karena selama lima tahun ia selalu menulis puisi, sebulan sekali, dua, tiga, atau bahkan seminggu sekali.

Sebetulnya, ia ingin…

Bertemu

Seumpama kanvas, aku putih mendamba kuas
Lantas menanti warna sebuah semi

Sering juga kujumpa warna
Seiring hati ku berkelana
Sejak fajar pertama bersinar
Hingga senja terakhir memudar
Aku lantas berjumpa kau
Hanya berjumpa
Tak lebih dari kata biasa

Namun
Setelah perjumpaan itu
Waktu berlalu begitu lambat
Seperti sesal karna jumpa sekejap

Ku bayangkan saja
Bertemu kamu padang rumput yang hijau
Dibawah pepohon teduh yang bersambung
Di kelilingi bunga buah mentari yang harum
Hingga tinggal aku dan kamu
Tak sedikitpun ada bilah bilik semu

Satu Gerak, tutur kata, dan tanda
Hanya satu tuk ubah semuanya
Warna yang semula biasa
Seolah menjelma menyerupai senja
Dahsyat menakzimi hati yang sarat
Sejuk mengairi rindu yang pilu
Damba yang lindap, dan sepi
Sekejap berubah
Jadi harap kanvas-kanvas yang sunyi
Setia menanti sebuah isi.

"Dalam semesta yg entah berujung atau tidak, Ingin ku hanya bersandar padamu hingga kelak,
Bersama semesta yang kau naungi, bersama dunia yang ku hinggapi"

"Jika cinta hanya ungkapan, maka tak mungkin Aku takut kehilanganmu seperti sekarang"

Na..na..

*untuk mantan kekasih teman

Nona, tahu kah kamu?
Dia (sahabatku) termangu ditepian sungai
Dengan wajah murung, rambut acak terurai
Ku dekati saja,
Ku sapa dengan kopi, lantas ceritanya mulai kudaki

Nona, tahu kah kamu?
Kau selembar ilusi
Dalam harapan diatas lautan mimpi
Cinta mengembara dalam peristiwa bahagia
Acap kali dikenang dalam diari yang usang
Rindu yang menjadi candu
Bergejolak diantara dinding batu
Cinta hanya tinggal harapan
Harapan yang kadang kala begitu kejam
Mebubuhi hari dengan racun
Mengikis nafas asmara yang melantun
Tetap berjuang demi arti
Namun cinta terkapar seolah mati

Bulan yang kini berlayar diantara mega yang membendung sinarnya,
Semoga tak menghalangiku tuk mengingatmu sebagai Cinta,
Sebagaimana angin yang hanya berhembus saja, aku kirim doa cinta dan warnanya,
Agar meresap di dinding rumah mu, sampai akhirnya larut dalam ketenangan hati mu..
Segeralah terlelap Sayang,
Segera jemput mentari yang telah menanti..

thinkmexican:

Nelson Mandela’s Long Road to Freedom

“I have walked that long road to freedom. I have tried not to falter; I have made missteps along the way. But I have discovered the secret that after climbing a great hill, one only finds that there are many more hills to climb. I have taken a moment here to rest, to steal a view of the glorious vista that surrounds me, to look back on the distance I have come. But I can only rest for a moment, for with freedom come responsibilities, and I dare not linger, for my long walk is not ended” - Nelson Mandela

Revolutionary, anti-apartheid leader, peacemaker and world icon Nelson Rolihlahla Mandela died at his home in Johannesburg, South Africa, just before 9 p.m. local time on December 5, 2013. He was 95 years.

Mandela, who spent 27 years in jail for fighting the racist white rule of apartheid, gave his life to see the liberation of his people. His courage and resolution will forever serve as a great example of human dignity.

The world honors your memory. May you rest in peace, Madiba.

Reblogged from rahmayanieni

thinkmexican:

Nelson Mandela’s Long Road to Freedom

“I have walked that long road to freedom. I have tried not to falter; I have made missteps along the way. But I have discovered the secret that after climbing a great hill, one only finds that there are many more hills to climb. I have taken a moment here to rest, to steal a view of the glorious vista that surrounds me, to look back on the distance I have come. But I can only rest for a moment, for with freedom come responsibilities, and I dare not linger, for my long walk is not ended” - Nelson Mandela

Revolutionary, anti-apartheid leader, peacemaker and world icon Nelson Rolihlahla Mandela died at his home in Johannesburg, South Africa, just before 9 p.m. local time on December 5, 2013. He was 95 years.

Mandela, who spent 27 years in jail for fighting the racist white rule of apartheid, gave his life to see the liberation of his people. His courage and resolution will forever serve as a great example of human dignity.

The world honors your memory. May you rest in peace, Madiba.

"Katup mata yg pejam itu, biarlah menerima doa dari rindur"

Salam Malam